logo-raywhite-offcanvas

02 Jan 2026 NEWS 8 min read

Financial Abuse: Pengertian, Bentuk, dan Cara Menghindarinya dalam Kehidupan Sehari-hari

Financial abuse atau kekerasan finansial adalah salah satu bentuk kekerasan yang sering kali tidak disadari, namun memiliki dampak besar terhadap kehidupan seseorang. Banyak orang menganggap bahwa kekerasan dalam hubungan hanya seputar kekerasan fisik atau verbal, padahal kendali atas keuangan juga merupakan bentuk kekerasan yang berbahaya. Financial abuse dapat terjadi dalam hubungan rumah tangga, hubungan pacaran, pertemanan, hingga di lingkungan keluarga yang lebih luas. 

Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai apa itu financial abuse, ciri-ciri yang perlu diwaspadai, dampaknya terhadap korban, serta langkah-langkah penting untuk menghindari atau keluar dari situasi tersebut. 

 

Apa Itu Financial Abuse?

Financial abuse adalah bentuk kekerasan di mana pelaku mengendalikan akses korban terhadap uang atau sumber daya ekonomi lainnya. Kendali ini bukan hanya berkaitan dengan uang yang dihasilkan korban, tetapi juga yang diberikan kepada korban, akses terhadap rekening bank, pengaturan pekerjaan, bahkan keputusan finansial yang seharusnya dilakukan bersama. 

Pelaku biasanya menggunakan cara-cara manipulatif seperti membuat korban merasa tidak mampu mengelola uang, memaksa korban untuk menyerahkan seluruh pendapatan, atau membatasi korban dari pekerjaan. Dengan kata lain, financial abuse bertujuan melemahkan korban secara ekonomi, sehingga korban kesulitan untuk mandiri dan akhirnya bergantung sepenuhnya pada pelaku.

Kekerasan finansial sering kali muncul secara perlahan dalam suatu hubungan. Pada awalnya, pelaku mungkin hanya memberi “masukan” atau “saran” mengenai cara mengatur keuangan. Namun, seiring waktu, saran itu berubah menjadi aturan ketat yang menekan, bahkan diikuti dengan intimidasi jika korban mencoba mempertahankan kontrol atas keuangannya. 

Financial abuse dapat terjadi pada siapa saja, tanpa memandang usia, latar belakang ekonomi, pendidikan, maupun gender. Faktanya, banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga yang melibatkan aspek finansial sebagai bagian dari pola kontrol yang dilakukan pelaku.

 

Mengapa Financial Abuse Berbahaya?

Financial abuse berbahaya karena membuat korban kehilangan kontrol atas hidupnya. Tanpa akses terhadap uang atau sumber daya ekonomi, korban akan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan. Dalam banyak kasus, pelaku sengaja membuat korban tidak memiliki tabungan dan memutuskan akses ke rekening bank atau alat pembayaran lainnya. Dengan kondisi seperti ini, korban menjadi sulit untuk keluar dari hubungan berbahaya karena tidak memiliki biaya untuk pergi, mencari tempat aman, atau memulai hidup baru.

Selain mengancam kondisi ekonomi, financial abuse juga berdampak serius pada kondisi mental. Korban yang terus-menerus dikendalikan secara finansial dapat merasa tidak berdaya, rendah diri, dan kehilangan motivasi untuk mengembangkan diri. Hal ini sering diperburuk dengan adanya kekerasan verbal atau emosional dari pelaku yang membuat korban merasa seolah-olah dirinya tidak mampu mengatur keuangan sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan stres berkepanjangan, kecemasan, hingga depresi.

Lebih jauh lagi, financial abuse bukan hanya mempengaruhi individu, tetapi juga dapat berdampak pada keluarga. Jika korban memiliki anak, kekerasan finansial dapat mempengaruhi stabilitas rumah tangga dan masa depan anak-anak. Misalnya, keputusan keuangan yang semena-mena dari pelaku dapat menghambat pendidikan anak, mempengaruhi kesehatan keluarga, dan menciptakan lingkungan rumah yang tidak stabil.

 

Ciri-Ciri Financial Abuse yang Harus Diwaspadai

Memahami ciri-ciri financial abuse sangat penting agar seseorang dapat mengenali hubungan atau situasi yang berpotensi berbahaya. Beberapa tanda umum financial abuse meliputi:

1. Pelaku Mengontrol Seluruh Keuangan

Pelaku menuntut agar semua pendapatan korban diberikan kepadanya. Korban tidak memiliki kebebasan untuk menggunakan uangnya sendiri, bahkan untuk kebutuhan dasar sekalipun. Pelaku mungkin mengatur semua pengeluaran dan melarang korban membuat keputusan finansial apa pun.

2. Membatasi Akses Korban ke Rekening atau Dokumen Penting

Pelaku menyembunyikan buku tabungan, kartu ATM, slip gaji, atau dokumen penting lainnya. Korban tidak memiliki akses terhadap rekening bank dan tidak mengetahui kondisi keuangan keluarga secara menyeluruh.

3. Melarang atau Menghambat Korban untuk Bekerja

Kasus ini umum terjadi pada hubungan rumah tangga. Pelaku melarang korban bekerja dengan alasan ingin “menjaga” atau “melindungi” korban. Padahal, tujuannya adalah membuat korban tidak memiliki penghasilan sendiri sehingga semakin bergantung.

4. Mengatur atau Memantau Pengeluaran Secara Berlebihan

Pelaku meminta laporan detail pengeluaran korban, termasuk hal-hal kecil seperti membeli sabun atau makanan ringan. Dalam beberapa kasus, pelaku memberikan uang dalam jumlah sangat terbatas dan menuntut sisa uang harus dikembalikan atau dilaporkan.

5. Menggunakan Uang Korban Tanpa Izin

Pelaku menggunakan kartu debit atau kredit korban tanpa persetujuan. Ada pula pelaku yang meminjam uang tetapi tidak pernah mengembalikan, atau mengambil uang dari dompet korban secara diam-diam.

6. Menumpuk Utang atas Nama Korban

Sebagian pelaku menggunakan identitas korban untuk mengambil pinjaman, kartu kredit, atau cicilan, lalu meninggalkan korban dengan beban utang yang besar.

7. Mengintimidasi Korban Jika Tidak Mau Menyerahkan Kontrol Keuangan

Pelaku bisa mengancam, memaki, atau menggunakan kekerasan fisik ketika korban menolak aturan finansial yang dibuatnya.

 

Dampak Jangka Panjang Financial Abuse

Financial abuse berdampak jangka panjang, tidak hanya pada kondisi ekonomi, tetapi juga aspek psikologis, sosial, dan masa depan korban. Dampak berikut perlu dipahami agar masyarakat sadar bahwa kekerasan finansial bukanlah hal sepele.

Kerugian Ekonomi

Seseorang yang mengalami financial abuse sering kehilangan tabungan, aset berharga, atau bahkan sumber penghasilan. Banyak korban yang harus memulai dari nol setelah keluar dari hubungan tersebut, dan proses ini bisa sangat berat secara emosional maupun finansial.

Ketergantungan Berlebihan

Karena tidak memiliki kebebasan finansial, korban menjadi sepenuhnya bergantung pada pelaku. Ketergantungan ini membuat korban sulit mengambil keputusan penting, termasuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat.

Gangguan Psikologis

Korban sering mengalami rasa takut, malu, dan tidak percaya diri. Kondisi ini dapat memperburuk kesehatan mental korban dan membuatnya sulit untuk bangkit.

Isolasi Sosial

Dalam beberapa kasus, pelaku menggunakan kendali finansial sebagai cara untuk mengisolasi korban dari keluarga dan teman. Korban tidak bisa bepergian karena tidak memiliki uang atau pelaku melarang menggunakan kendaraan dan fasilitas lainnya.

Cara Menghindari dan Mengatasi Financial Abuse

Menghindari dan mengatasi financial abuse memerlukan langkah yang hati-hati, terutama jika hubungan dengan pelaku sudah berlangsung lama. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:

1. Kenali Tanda-Tandanya Sejak Awal

Jika seseorang mulai menunjukkan perilaku ingin mengontrol keuangan Anda secara berlebihan, anggap itu sebagai sinyal bahaya. Perilaku ini biasanya berkembang menjadi kekerasan finansial yang lebih serius.

2. Miliki Rekening Pribadi

Meskipun sudah menikah atau tinggal bersama, memiliki rekening pribadi sangat penting untuk memastikan Anda tetap memiliki kemandirian finansial.

3. Simpan Dokumen Penting di Tempat Aman

Pastikan Anda mengetahui lokasi dokumen-dokumen seperti KTP, kartu keluarga, buku tabungan, dan slip gaji. Jika perlu, simpan salinannya di tempat yang tidak mudah ditemukan pelaku.

4. Bangun Jaringan Dukungan

Beritahu teman dekat atau keluarga mengenai kondisi yang Anda hadapi. Dukungan mereka penting jika Anda memutuskan untuk keluar dari hubungan tersebut.

5. Cari Bantuan Profesional

Organisasi perlindungan perempuan, psikolog, hingga lembaga bantuan hukum dapat memberikan solusi sesuai kebutuhan.

6. Buat Rencana Keamanan

Jika situasi memburuk, pastikan Anda memiliki rencana untuk meninggalkan rumah dengan aman, termasuk menyiapkan dana darurat, pakaian, dan dokumen penting.

 

Mengapa Edukasi tentang Financial Abuse Penting?

Edukasi mengenai financial abuse sangat penting karena banyak orang tidak sadar bahwa mereka sedang menjadi korban. Dalam beberapa kasus, korban bahkan menganggap perlakuan pelaku sebagai bentuk perhatian atau tanggung jawab dalam mengelola keuangan. Pemahaman yang baik tentang kekerasan finansial dapat membantu seseorang mengenali tanda-tandanya lebih cepat dan mengambil langkah yang tepat untuk melindungi diri.

Selain itu, edukasi juga diperlukan untuk mendorong masyarakat lebih peka terhadap tanda-tanda kekerasan yang terjadi di sekitar mereka. Banyak korban yang diam karena takut atau malu, sehingga dukungan dari lingkungan sekitar menjadi sangat penting. Dengan meningkatnya kesadaran publik, diharapkan kasus financial abuse dapat berkurang dan korban merasa memiliki ruang aman untuk mencari bantuan.

Financial abuse adalah bentuk kekerasan yang berbahaya karena menghambat seseorang untuk mandiri secara ekonomi dan mempengaruhi kesejahteraan mental maupun sosialnya. Kekerasan ini sering hadir dalam hubungan yang tidak sehat dan bertujuan mengontrol korban melalui cara-cara yang manipulatif. Dengan memahami pengertian, ciri-ciri, dan dampak financial abuse, masyarakat diharapkan lebih siap mengenali situasi berbahaya ini serta mampu mengambil langkah tepat untuk melindungi diri maupun orang-orang terdekat.

Kesadaran dan edukasi menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah ini. Semakin banyak orang mengetahui mengenai financial abuse, semakin besar pula peluang untuk mencegah dan mengurangi kasus-kasus yang terjadi. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami bentuk kekerasan ini, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional maupun dukungan dari keluarga atau teman terdekat. 

Tidak ada satupun orang yang berhak dikendalikan secara finansial, dan setiap individu berhak memiliki kebebasan atas kehidupannya sendiri. Semoga artikel ini membantu meningkatkan pemahaman Anda mengenai financial abuse dan mendorong langkah-langkah positif dalam menciptakan hubungan yang sehat dan setara.

Anda bisa percayakan segala kebutuhan Anda seputar hunian kepada Ray White Property Management. Kami hadir sebagai sebuah solusi untuk anda yang ingin memiliki hunian terbaik di wilayah Jakarta. Anda dapat mengunjungi Ray White Property Management di Gedung Lippo Thamrin lantai 5 unit 5-02 Jalan M.H. Thamrin No. 20 Jakarta Pusat atau hubungi kami di (021) 2918 - 5234 atau kunjungi website kami di https://propertymanagement.raywhite.co.id/

 

Written by: Jennifer Rantelobo (Copywriter of Ray White PPC Group)

Approved by: Cynthia Natalia William (Marcomm of Ray White & Loan Market PPC Group)